AVES

0 komentar



Ciri-ciri Umum
Burung berdarah panas dan berkembang biak melalui telur. Tubuhnya tertutup bulu dan memiliki bermacam-macam adaptasi untuk terbang. Kedua tungkai depannya telah berubah menjadi sayap.
Ciri-ciri khusus aves antara lain :
1.      Tubuh terbungkus oleh bulu
2.      Mempunyai dua pasang anggota (extremitas), anggota anterior (sepasang) mengalami modifikasi sebagai sayap, sedangkan sepasang anggota posterior disesuaikan untuk hinggap dan berenang. Pada kaki terdapat 4 jari, 3 di depan dan 1 dibelakang. Cakar terbungkus oleh kulit yang menanduk dan bersisik.
3.      Skeleton kecil, kuat, baik, dan penulangannya sempurna. Pada mulut terdapat bagian yang terproyeksi sebagai paruh yang terbungkus lapisan zat tanduk. Tempurung kepala memiliki sebuah occipitale condyle, lehernya sangat fleksibel, tulang pembentuk pelvicus bersenyawa dengan sejumlah vertebrae tapi sebelah ventral terbuka.
4.      Respirasi dilakukan dengan paru-paru yang menempel pada costae dan berhubungan dengan kantung udara yang meluas pada alat-alat dalam, memiliki kotak suara atau siring pada dasar trakea.
5.      Tidak memiliki vesica urinaria, zat-zat ekskresi setengah padat, pda hewan betina biasanya memiliki ovarium kiri dan oviduct kiri.
6.      Suhu tubuh tetap (homoiothermis).
7.      Memiliki 12 nervi cranialis.
8.      Fertilisasi terjadi di dalam tubuh, memiliki membran embryonica (amnion, chorion, yolk sac dan allantois) semua perkembangan dalam telur. Anak-anaknya yang masih muda dierami, disuapi makanan dan dijaga oleh induknya (kecuali pada Megapodes).
Burung memiliki sejumlah cirri-ciri khusus yang berhubungan dengan kemampuan terbangnya, yaitu:.
a.       Kebanyakan tulang yang besar berongga untuk mengurangi bobot badan. Berat rangkanya hanya 10% dari seluruh berat badan.
b.      Pada tulang dada yang berlunas dalam, melekat otot-otot terbang yang kokoh untuk menggerakkan sayap.
c.       Sistem pernafasan diperluas dengan alat pembantu pernafasan, yaitu pundi-pundi udara yang berupa kantung selaput yang ringan.
d.      Posisi tubuhnya efisien pada waktu terbang sehingga dapat bergerak tanpa halangan sewaktu melawan angin.
Morfologi Aves
Tubuh dibedakan atas caput (kepala), cervix (leher) yang biasanya panjang, truncus (badan) dan cauda (ekor). Sepasang extrimitas anterior merupakan Ala (sayap) yang terlipat seperti huruf Z pada tubuh waktu tidak terbang. Extremitas posterior berupa kaki, otot daging paha kuat, sedang bagian bawahnya bersisik dan bercakar. Mulut mempunyai rostum (paruh) yang terbentuk oleh maxilla pada ruang atas dan mandibula pada ruang bawah. Bagian dalam rostum dilapisi oleh lapisan yang disebut cera, sedang sebelah luar dilapisi oleh pembungkus selaput zat tanduk.
Pada atap paruh atas terdapat lubang hidung (nares interna pada sebelah dalam dan nares externa sebelah luar). Organon visus relatif besar dan terletak sebelah lateral pada kepala dengan kelopak mata yang berbulu. Pada sudut medial terdapat membrana nicitan yang dapat ditarik menutup mata. Di belakang dan di bawah tiap-tiap mata terdapat lubang telinga yang tersembunyi di bawah bulu khusus. di bawah ekor.
Penutup tubuh berupa bulu mempunyai 3 tipe, yaitu :
a.       Bulu kontur (plumae), untuk terbang dan mengandung sebuah baling-baling (vane) yang tersebar dengan pola tertentu yang disebut pteril.
b.      Bulu kapas (plumulae), tidak ada vane, mengandung serabut-serabut yang tidak terikat satu dengan lainnya, dan tersebar diseluruh tubuh.
c.       Filoplumae, kecil-kecil dengan batang bentuk benang berakhir dengan beberapa serabut, tumbuh di sekitar pangkal bulu kontur. Bulu-bulu itu diganti tiap tahun, sehabis musim perkawinan. Hanya ada sebuah kelenjar yang terdapat pada kulit, yaitu kelenjar uropigeal.
Menurut letaknya bulu digolongkan menjadi :
a.       Tetrices, yang menutupi tubuh
b.      Retrices, yang berpangkal pada ekor
c.       Remiges, yang terdapat pada sayap
d.      Paraptirum, yang menutupi daerah bahu
e.       Ala spuria, sebagai bulu kecil yang menempel pada poluk (ibu jari)
Perubahan dan Peluruhan Bulu (Moult)
Kerusakan bulu ternyata bukan merupakan satu-satunya faktor yang mendorong terjadinya perubahan dan peluruhan bulu. Pada waktu tertentu yang berbeda dalam satu tahun (pada satu musim yang berbeda), setiap burung mengalami perubahan bulunya atau bagian dari bulunya, bergantung pada keperluannya. Selama musim berbiak, bulu bewarna-warni yang biasanya sangat diperlukan untuk keperluan menarik lawan jenis, tidak lagi diperlukan, sedangkan penyamaran masih diperlukan dalam bentuk yang lain. Untuk keperluan yang berbeda-beda itulah kemudian burung meluruhkan bulunya pada waktu-waktu tertentu sesual dengan keperluan. Pengetahuan mengenai waktu burung meluruhkan bulunya dan bagaimana bentuk bulu pada periode antara peluruhan tersebut akan sangat bermanfaat apabula kita ingin memperkirakan umur individu burung .
Fungsi bulu pada aves:
1.        Dapat mencegah hilangnya panas tubuh dengan menggoyang-goyangkan bulu mereka dalam cuaca dingin.
2.        Sementara, saat cuaca panas, burung mempertahankan kesejukan tubuh dengan melicinkan bulu-bulu mereka.
3.        Sebagai penutup tubuh
4.        Bulu-bulu ekor yang besar digunakan untuk mengemudi dan mengerem.
5.        Untuk memperindah tubuh.
6.        Plumae agar dapat terbang
7.        Filoplumae sebagai sensor
8.        Plamulae berfungsi sebagai isolator
9.        Untuk menghangatkan telur saat mengerami
10.    Melindungi kulit dari serangga

Sistem pernapasan
Lubang hidung yang terdapat pada paruh menghubungkan rongga hidung di atas rongga mulut. Glottis pada bagian bawah faring menghubungkan saluran trakea yang di perkuat denga kartilago. Trakea berlanjut ke bawah arah leher yaitu syring (kotak suara), tempat terdapatnya otot vocal, dari syring dilanjutkan ke bronkhos paru-paru berukuran kecil melekat pada rusuk dan vertebrata di bagian dorsal dari trax dengan jaringan ikat, paru-paru dimasuki sejumlah broncheolus yang saling berhubungan dan sejumlah dara dari pulmonary. Pada broncheolus melekat kantung udara yang terdapat di sela-sela organ dalam pada rongga badan dan menjulur ke ruang disekitar vertebrta leher.
Paru-paru dapat digerakan sedikit oleh otot yang terdapat disekitar tulang rusuk . jika sternum bergerak turun, dan rusuk menggembung ke samping udara ke rongga paru-paru , jika kontraksi terjadi sbaliknya. Maka dara keluar dari rongga paru-paru. Gerakan tersebut dimungkinkan karena struktur torak yang kaku. Pada sat inspirasi, udara masuk melalui bronchioles ke kantung udara membantu penyebaran panas tubuh yang dihasilkan oleh kontraksi otot dan aktivitas metabolic lainya. Suara yang terdengar pada burung dihasilkan karena udara yang bergetar ketika melewati otot syring.     
Sistem pencernaan Aves
Lidah pada burung berbentuk runcing dan panjang dengan lapisan zat tanduk. Pada  rongga mulut bagian atas terdapat lipatan palatal. Dilanjutkan dengan faring, kemudian saluran esophagus yang dilapisi otot memanjang ke bagian bawah leher tempat terdapatnya tembolok yang berfungsi sebagai tempat penyimpan makanan.
Dan beberapa diantaranya alat dan fungsi pada burung adalah sebagai berikut:
·         Paruh : Mengambil makanan.
·         Kerongkongan : Saluran makanan menuju tembolok.
·         Tembolok : Menyimpan makanan sementara.
·         Lambung kelenjar : Mencerna makanan secara kimiawi.
·         Lambung pengunyah : Menghancurkan makanan.
·         Hati : Membantu mancerna makanan secara mekanis.
·         Pankreas : Menghasilkan enzim.
·         Usus halus : Tempat pencernaan sari makanan yang diserap oleh kapiler darah pada dinding usus halus.
·         Usus besar : Saluran sisa makan ke rectum.
·         Usus buntu : Memperluas daerah penyerapan sari makanan.
·         Poros usus : Tempat penyimpan sisa makanan sementara.
·         Kloaka : Muara 3 (tiga) saluran,yaitu : Pencernaan usus, Saluran uretra dari ginjal, Saluran kelamin
Pada mulut terdapat paruh yang sangat kuat dan berfungsi untuk
mengambil makanan. Makanan yang diambil oleh paruh kemudian masuk
kedalam rongga mulut lalu menuju kerongkongan. Bagian bawah kerongkongan membesar berupa kantong yang disebut tembolok. Kemudian masuk ke lambung kelenjar. Disebut lambung kelenjar karena dindingnya mengandung kelenjar yang menghasilkan getah lambung yang berfungsi untuk mencerna makan secara kimiawi. Kemudian makan masuk menuju lambung pengunyah. Disebut lambung
pengunyah karena dindingnya mengandung otot-otot kuat yang berguna untuk menghancurkan makanan. Didalam hati,empedal sering terdapat batu kecil atau pasir untuk membantu mencerna makanan secara mekanis.
Kemudian makanan masuk menuju usus halus.Enzim yang dihasilkan oleh pankreas dan empedu dialirkan kedalam usus halus.Hasil pencernaan berupa sari-sari makanan diserap oleh kapiler darah pada dinding usus halus. Burung mempunyai dua usus buntu yang terletak antara lambung dan usus.
Usus buntu berguna untuk memperluas daerah penyerapan sari makanan. Sisa makanan didorong ke usus besar kemudian kedalam poros usus (rektum) dan akhirnya dikeluarkan melalui kloaka. Sistematis pencernaan makanan pada burung :
Mulut / paruh → Kerongkongan → Tembolok → Lambung kelenjar →Lambung pengunyah → Hati → Pankreas → Usus halus → Usus besar →Usus buntu → Poros usus (rectum) → Kloaka.

Sistem Peredaran Darah
Peredaran darah burung adalah dari paru-paru mengangkut oksigen masuk ke serambi kiri,kemudian ke bilik kiri. Dari bilik kiri darah di pompa keseluruh tubuh melalui aorta. Dise-sel tubuh darah melepaskan O2 dan mengikat ¬CO2. Darah yang mengandung banyak CO2 ini masuk serambi kanan melalui pembuluh balik.Selanjutnya darah masuk bilik kanan,kemudian dipompa masuk ke paru-paru. Didalam paru-paru darah melepaskan CO2 dan mengikat O2.
 Bagan sirkulasi pada burung
Paru-paru → Serambi kiri → Bilik kiri → Seluruh tubuh → Serambi kanan→ Bilik kanan → Paru-paru

Sistem Reproduksi
Kelompok burung merupakan hewan ovipar. Walaupun kelompok buruk tidak memiliki alat kelamin luar, fertilisasi tetap terjadi di dalam tubuh. Hal ini dilakukan dengan cara saling menempelkan kloaka.
Pada burung betina hanya ada satu ovarium, yaitu ovarium kiri. Ovarium kanan tidak tumbuh sempurna dan tetap kecil yang disebut rudimenter. Ovarium dilekati oleh suatu corong penerima ovum yang dilanjutkan oleh oviduk. Ujung oviduk membesar menjadi uterus yang bermuara pada kloaka. Pada burung jantan terdapat sepasang testis yang berhimpit dengan ureter dan bermuara di kloaka.
Akan berlangsung di daerah ujung oviduk pada saat sperma masuk ke dalam oviduk. Ovum yang telah dibuahi akan bergerak mendekati kloaka. Saat perjalanan menuju kloaka di daerah oviduk, ovum yang telah dibuahi sperma akan dikelilingi oleh materi cangkang berupa zat kapur.
Telur dapat menetas apabila dierami oleh induknya. Suhu tubuh induk akan membantu pertumbuhan embrio menjadi anak burung. Anak burung menetas dengan memecah kulit telur dengan menggunakan paruhnya. Anak burung yang baru menetas masih tertutup matanya dan belum dapat mencari makan sendiri, serta perlu dibesarkan dalam sarang.

Contoh  Aves
1.       Ayam
Kingdom : Animalia
Phyllum :Chordata
Class : Aves
Ordo : Galliformes
Family : Phasianidae
Genus : Gallus
Spesies :Gallus gallus (Ayam)
2.       Burung Unta
Burung unta adalah hewan berdarah panas, mempunyai sayap dan tubuh yang diselubungi bulu. Bulu mereka tidak berfungsi sebagai kerajang udara, tetapi pernah populer sebagai hiasan topi wanita dan sebagainya. Paruhnya tidak bergigi dan lancip. Burung unta mempunyai leher yang panjang dan mampu beralri sehingga 65 km/jam.
Burung unta terkenal dengan sarang masyarakat, di mana beberapa ekor burung betina akan bertelur dalam satu sarang, untuk dierami oleh betina pada waktu siang dan jantan pada waktu malam. Telur burung unta adalah telur terbesar.
Klasifikasi
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Struthioniformes
Famili: Struthionidae
Genus: Struthio
Spesies
: S. Camelus
3.       Burung kasuari
Casuarius casuarius adalah salah satu burung dari tiga spesies Kasuari. Burung dewasa berukuran besar, dengan ketinggian mencapai 170cm, dan memiliki bulu berwarna hitam yang keras dan kaku. Kulit lehernya berwarna biru dan terdapat dua buah gelambir berwarna merah pada lehernya. Di atas kepalanya terdapat tanduk yang tinggi berwarna kecoklatan. Burung betina serupa dengan burung jantan, dan biasanya berukuran lebih besar dan lebih dominan.
Burung Kasuari mempunyai kaki yang besar dan kuat dengan tiga buah jari pada masing-masing kakinya. Jari-jari kaki burung ini sangat berbahaya karena diperlengkapi dengan cakar yang sangat tajam. Seperti umumnya spesies burung-burung yang berukuran besar, burung Kasuari Gelambir-ganda tidak dapat terbang. Pakan burung Kasuari Gelambir-ganda terdiri dari aneka buah-buahan yang terjatuh di dasar hutan.
Burung Kasuari biasanya hidup sendiri, berpasangan hanya pada waktu musim berbiak. Anak burung dierami dan dibesarkan oleh burung jantan
Casuarius adalah salah satu dari dua genus burung di dalam suku Casuariidae. Genus ini terdiri dari tiga spesies kasuaKasuari diperlengkapi tanduk di atas kepalanya, yang membantu burung ini sewaktu berjalan di habitatnya di hutan yang lebat. Selain tanduk dikepalanya, kasuari mempunyai kaki yang sangat kuat dan berkuku tajam. Burung kasuari betina biasanya berukuran lebih besar dan berwarna lebih terang daripada jantan yang berukuran sangat besar dan tidak dapat terbang.
Klasifikasi
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordatsa
Kelas: Aves
Ordo: Struthioniformes
Famili: Casuariidae
Genus: Casuarius
Spesies
: C. casuarius
4.        Burung Merak biru
Merak Biru adalah salah satu burung dari tiga spesies burung merak. Merak Biru mempunyai bulu berwarna biru gelap mengilap. Burung jantan dewasa berukuran besar, panjangnya dapat mencapai 230cm, dengan penutup ekor yang sangat panjang berwarna hijau metalik. Di atas kepalanya terdapat jambul tegak biru membentuk kipas. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan. Bulu-bulunya tidak mengilap, berwarna coklat kehijauan dengan garis-garis hitam dan tanpa dihiasi bulu penutup ekor. burung muda seperti betina.
Merak jantan adalah poligami spesies, mempunyai pasangan lebih dari satu. Pada musim berbiak, burung jantan memamerkan bulu ekornya di depan burung betina. Bulu-bulu penutup ekor dibuka membentuk kipas dengan bintik berbentuk mata berwarna biru. Burung betina biasanya menetaskan tiga sampai enam butir telur. Pakan burung Merak Biru terdiri dari aneka biji-bijian, pucuk rumput dan dedaunan, aneka serangga, serta berbagai jenis hewan kecil seperti cacing, laba-laba dan kadal kecil.
Klasifikasi
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Galliformes
Famili: Phasianidae
Genus: Pavo
Spesies:
P. Cristatus
5.        Burung Bangau
Bangau adalah sebutan untuk burung dari keluarga Ciconiidae. Badan berukuran besar, berkaki panjang, berleher panjang namun lebih pendek dari burung Kuntul, dan mempunyai paruh yang besar, kuat dan tebal. Bangau bisa dijumpai di daerah beriklim hangat. Habitat di daerah yang lebih kering dibandingkan burung Kuntul dan Ibis. Makanan berupa Katak, ikan, serangga, cacing, burung kecil dan mamalia kecil dari lahan basah dan pantai.
Bangau tidak memiliki organ suara syrinx sehingga tidak bersuara. Paruh yang diadu dengan pasangannya merupakan cara berkomunikasi menggantikan suara panggilan.
Klasifikasi
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Ciconiiformes
Familia: Ciconiidae
Genus : Mycteria
Spesies :
Mycteria leucocephala
6.        Bebek
Secara keseluruhan tubuh bebek berlekuk dan lebar, dan memiliki leher yang relatif panjang, meski tidak sepanjang angsa dan angsa berleher pendek. Bentuk tubuh bebek bervariasi dan umumnya membulat. Paruhnya berbentuk lebar dan mengandung lamellae yang berguna sebagai penyaring makanan. Pada spesies penangkap ikan, paruhnya berbentuk lebih panjang dan lebih kuat. Kakinya yang bersisik kuat dan terbentuk dengan baik, dan umumnya berada jauh di belakang tubuh, yang umum terdapat pada burung akuatik. Sayapnya sangat kuat dan umumnya pendek. Penerbangan bebek membutuhkan kepakan berkelanjutan sehingga membutuhkan otot sayap yang kuat.
Klasifikasi
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Anseriformes
Famili: Anatidae
Genus : Anas
Spesies
: Anas Platyrhyncos
7.        Angsa
Angsa adalah anggota terbesar dari famili Anatidae, dan merupakan salah satu burung air terbesar yang dapat terbang. Spesies terbesar dari angsa, yaitu Angsa Putih, Angsa Trompet, dan Angsa Whooper dapat mencapai panjang 60 inci dan berat 50 pound. Bentangan sayap mereka dapat mencapai panjang tiga meter. Dibandingkan dengan saudaranya, angsa berleher pendek, angsa berukuran lebih besar dalam ukuran dan secara proporsional memiliki kaki dan leher yang lebih besar. Pada angsa dewasa, mereka mempunyai tanda berupa kulit yang tidak ditutupi bulu di antara mata dan paruh. Angsa jantan dan betina mirip, tidak menunjukkan sifat dimorfisme seksual. Namun ukuran angsa jantan umumnya lebih besar dan lebih berat.
Klasifikasi
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Anseriformes
Famili: Anatidae
Genus : Cygnus
Species
: Cygnus sp

Peranan Aves Pada Manusia
Burung berperan dalam proses penyerbukan beberapa jenis tumbuhan. Dan sejak jaman dulu burung telah digunakan manusia untuk berbagai kebutuhan. Burung-buring kecil membantu dalam membasmi hama serangga pada tanaman dan ada juga sburung yang berukuran besar seperti elang dan burung hantu menjadi predator bagi tikus sawah telur burung merupakan sumber lemak dan protein yang di butuhkan manusia. Keindahan kicau dan warna jenis burung tertentu menyebabkan manusia tertarik untuk memeliharanya. Dahulu, bulu burung cendrawasih dijadikan sebagai hiasan oleh kepala suku-suku masyarakat di papua. Begitu juga, kemampuan terbang beberapa jenis burung misalnya merpati dimanfaatka sebagai bentuk hiburan atau kegiatan yang di perlombakan.
Selain memberi manfaat pada manusia tapi juga ada yang merugikan . dan beberapa jenis burung memakan biji-bijian , tumbuhan muda , dan buah-buahan yang sengaja ditanam oleh manusia. Selain itu burung juga bias menjadi vector penyakit seperti penyakit flu burung.

REPTILIA

0 komentar


Ciri Umum Reptilia
Reptilia (dalam bahasa latin, reptil = melata) memiliki kulit bersisik yang terbuat dari zat tanduk (keratin). Sisik berfungsi mencegah kekeringan. Ciri lain yang dimiliki oleh sebagian besar reptil adalah anggota tubuh berjari lima, bernapas dengan paru-paru, jantung beruang tiga atau empat, menggunakan energi lingkungan untuk mengatur suhu tubuhnya sehingga tergolong hewan eksoterm, fertilisasi secara internal, menghasilkan telur sehingga tergolong ovipar dengan telur amniotik bercangkang.
Reptilia tersebar baik di daerah teropis maupun daerah subtropis. Pada daerah-daerah yang mendekati kutub dan tempat-tempat yang lebih tinggi jumlah dan jenisnya makin sedikit. Reptile menempati macam-macam habitat. Phyton misalnya terdapat di daerah-daerah tropis, hanya terdapat di rawa-rawa, sungai atau sepanjang pantai. Penyu terbesar teradapat dilaut dan kura-kura darat raksasa terdapat di kepulauan. Kadal dan ular umumnya terrestrial, tetapii ada yang menempati karang-karang atau pohon.
Karakteristik reptilia secara umum memiliki :
1.  Tubuh ditutupi kulit kering bertanduk (tidak licin), biasanya dilengkapi sisik atau kuku, dan kelenjar dipermuakaan hanya sedikit.
2.  Memiliki dua pasang anggota badan, masing-masing dengan lima jari yang pada bagian ujungnya terdapat cakar dan dapat digunakan untuk berlari, merayap atau memanjat. Anggota badan menyerupai dayung pada penyu, memendek pada kadal, dan tidak ada anggota badan pada beberapa jenis kadal dan semua jenis ular.
3.  Kerangka terdiri dari tulang keras, tengkorak dilengkapi rongga oksipital.
4.  Jantung terdiri dari empat ruang yang belum terpisah sempurna, dua serambi dan vertikel yang sebagian saling terpisah, satu pasang berkas aorta, sel darah merah oval bikonkaf dengan inti.
5.  Resppirasi dengan paru-paru, pada kura-kura air dilengkapi dengan respirasi kloaka.
6.  Terdapat 12 pasang saraf cranial.
7.  Suhu tubuh berubah-ubah bergantung suhu lingkungan (poikilothermis).
8.  Fertilisasi internal, menggunakan organ kopulasi, telurnya besar mengandung kuning telur yang terbungkus cangkang licin atau berkulit, biasanya telur ditetaskan tetapi pada beberapa jenis ular dan kadal embrio berkembang didalam tubuh betina.
Hewan Reptilia lebih maju dibanding amphibi karena memiliki diantaranya:
1.    Penutup tubuh yang kering dan bersisik sebagai adaptasi terhadap kehidupan di darat.
2.    Anggota tubuh memungkinkan hewan untuk berlari.
3.    Pemisahan darah bersih dan kotor di jantung.
4.    Skeleton terdiri dari tulang sejati.
5.    Telur dilengkapi dengan membran dan cangkang sebagai pelindung embrio sehingga memungkinkan untuk berkembang di darat.
Ukuran
Fosil Reptilia ditemukan dalam ukuran yang bervariasi, dari kecil sampai berukuran besar. Dari Reptilia yang ada pada masa sekarang, anaconda di Amerika Serikat dapat tumbuh sampai 990 cm, komodo (varanus komodoensis) memiliki panjang tubuh 285 cm. Beberapa jenis kura-kura darat dari pulau Galapagos mencapai panjang 120 cm. Buaya yang ditemukan tahun 1821 di Luzzon Philipina mencapai panjang 610 cm. Ular Laptotyphlops dari Siria berukuran seperti jarum renda, dan ada pula kadal Lepidoblepharis dari Panama yang panjangnya 5 cm. sebagian besar di Amerika Utara berukuran 20 120 cm, dan kadal dengan panjang di bawah 30 cm.
Struktur Morfologi
Morfologi Reptilia meliputi kepala yang terpisah, leher, tubuh, dan ekor, angggota tubuh berukuran pendek dengan sejumlah jari yang pada bagian ujungnya dilengkapi cakar dan begitupun ada juga sebagaian subordo yang lain yang tidak memiliki jari. Mulutnya yang panjang dilengkapi dengan gigi. Buaya mialnya di dekat ujung moncong terdapat dua lubang hidung. Mata berukuran besar dan terletak lateral, dengan kelopak atas dan bawah, serta membrane nictatin transparan yang dapat bergerak di bawah kelopak mata, telinga berukuran kecil terletak dibelakang mata. Anus terletak longitudinal dibelakang pangkal kaki belakang.
Penutup Tubuh
Semua Reptilia memiliki kulit yang kering yang terdiri dari epidermis berlapis dan dermis kompleks. Epidermis menghasilkan beberapa lapisan sel yang tumbuh kearah luar. Mengalami kornifikasi dan menutup seluruh bagian tubuh. Sel-sel epidermis saling melekat dengan kuat sehingga tahan terhadap gangguan mekanik. Lapisan dermis terdiri dari jaringan ikat dan mengandung pigmen, pembuluh darah dan saraf, pada jenis tertentu dilengkapi dengan tulang dermal. Serat jaringan ikat berupa lapisan kuat yang membatasi permukaan, saling menumpuk membentuk sudut 45 derajat terhadap sumbu tubuh. Selain itu terdapat serat yang lebih halus yang melekatkan dermis ke lapisan epidermis. Struktur dermis dan epidermis seperti ini memberikan kekuatan mekanis yang sifatnya elastis sehingga kulit dapat meregang, seperti yang diperlukan ular jika menelan mangsa yang besar.
Ular dan kadal mengalami pergantian kulit 2-6 kali dalam setahun. Pada pergantian kulit, lapisan epidermis luar yang mengalami kornifikasi terlepas dan digantikan. Sebelumnya, sel epidermal menghasilkan kutikula dibawah lapisan yang akan lepas. Kemudian dihasilkan secret diantara lapisan baru dan lama, sehingga sel-sel di bagian bawah lapisan epidermis yang akan melepas melarut, dan epidermis lama menjadi longgar. Pada ular, secret yang dihasilkan menutupi kutikula di bagian mata sehingga dapat mempengaruhi pandangan. Pada ular dan beberapa jenis kadal, selongsong kulit terlepas secara utuh, tetapi ada juga kadal yang melepaskan kulitnya dalam beberapa potongan. Ujung ekor rattlesnake mengalami kornifikasi lebhi serta tidak terlepas pada saat ganti kulit. Kura-kura dan buaya tidak mengalami pergantian kulit, tapi permukaan luarnya dapat terlepas.
Skeleton
Tengkorak buaya meliputi moncong yang panjang, dan sejumlah tulang. Rahang bawah memanjang sampai ke batas posterior tengkorak. Di bagian ventral cranium terdapat tulang palatal keras, tepat diatas saluran pernafasan. Kolom vertebra terdiri lima tipe vertebra, yaitu 9 sevical, 10 toraks, 5 lumbar, 2 sacral, dan sekitar 39 caudal. Pada vertebra servical terdapat rusuk servical bebas. Vertebra toraks dan sternum dihubungkan oleh rusuk toraks yang mengandung kartilago pada bagian ventral. Diantara sternum dan tulang pubis terdapat tujuh pasang rusuk abdominal berbentuk V.
Sistem Otot
jika dibandingkan dengan katak, otot buaya lebih variatif untuk membantu pergerakan di darat dan di air. Otot bagian kepala, leher dan kaki sudah mengalami diferensiasi sempurna.
Sistem Alat Gerak
Mempunyai dua pasang anggota gerak yang masing-masing dengan 5 jari dengan kuku-kuku yang cocok untuk lari, mencengkram, dan naik pohon. Pada yang masih hidup di air kakinya mempunyai bentuk dayung
Sistem Pencernaan
Mulut Reptilia misalnya, buaya berukuran besar dapat terbuka lebar dengan dilengkapi gigi yang digunakan untuk menyerang dan mempertahankan diri, selain itu juga untuk menarik dan memutar mangsa yang berukuran besar. Lidah tipis terdapat di dasar rongga mulut. Pada bagian belakang lidah, terdapat lipatan melintang, yang berhadapan dengan lipatan yang terdapat pada langit- langit mulut, jika kedua lipatan menempel, maka rongga mulut tertutup kearah faring, sehingga ketika buaya berada di dalam air mulutnya dapat terbuka tanpa ada air yang masuk ke paru-paru.
Diatas faring terdapat esofgus, berupa saluran panjang menuju lambung. Lambung terdiri dari fundus yang berbentuk bulat berukuran besar, dan pylorus yang berukuran lebih kecil di sebelah kanannya. Selanjutnya terhubung ke usus halus dan rectum menuju kloaka dan anus. Hati terdiri dari dua lobus terletak anterior dari lambung. Pancreas merupakan terdapat pada lekukan duodenum dari usus halus. Saluran hati dan pancreas bermuara ke usus halus bagian awal. Kloka merupakan bagian akhir dari saluran pencernaan, eksresi dan reproduksi.
Sistem Sirkulasi
Reptilia memiliki jantung dengan 4 ruangan yaitu 2 atrium dan 2 ventrikel hanya saja sekat diantara ventrikel itu belum jelas. Hewan ini memiliki system peredaran darah ganda. Dari seluruh tubuh yang kaya CO2 akan masuk melalui sinus venosus menuju ke atrium kanan lalu masuk ke ventrikel kanan lalu darah akan masuk ke paru-paru melalui arteri pulmonalis. Di paru-paru darah yang kaya CO2 akan dilepas sedang darah yang kaya O2 akan diikat kemudian darah mengalir menuju atrium kiri kemudian ke ventrikel kiri kemudian akan diedarkan keseluruh tubuh, kemudian kembali diikat darah yang kaya CO2 dan melalui pembuluh vena akan masuk kembali ke sinus venosus.
Sistem Respirasi
Udara masuk ke lubang hidung, melewati bagian atas langit-langit keras menuju rongga hidung yang terdapat di bawah velum, melewati glottis pada faring yang terletak di belakang lidah. Glottis terdiri dari tiga tulang katilago dan pita suara, dan selanjutnya terhubung ke trakea yang berupa cicin kartilago. Trakea memanjang ke bagian depan toraks, selanjutnya bercabang menjadi dua bronchi pendek, menuju lobus paru-paru kanan dan kiri. Paru-paru terdiri dari kapiler pulmonary.

Sistem Ekskresi
Sistem ekskresi pada reptil berupa ginjal, paru-paru,kulit dan kloaka. Kloaka merupakan satu-satunya lubang untuk mengeluarkan zat-zat hasil metabolisme.Reptil yang hidup di darat sisa hasil metabolismenya berupa asam urat yang dikeluarkan dalam bentuk bahan setengah padat berwarna putih.
Sistem Saraf dan Alat Indera
Otak Reptilia contohnya buaya memiliki dua lobus olfaktori yang panjang, yang terhubung ke cerebral hemispher yang berukuran besar. Dibelakang cerebral hemisphere terdapat lobus optikus. Berikutnya cerbellum berbentuk buah pir dan terletak di tengah, yang ukurannya lebih besar daripada yang terdapat pada hewan Amphibia. Medula oblongata terletak di bawah cerebellum, dan memanjang ke sumsum tulang belakang. Di bagian ventral, terdapat saraf optic dilanjutkan infundibilum dan hipofisis. Terdapat 12 pasang saraf cranial dan saraf spinal berpasangan.
Di lidah terdapat saraf pengecap (laste bud), dan di setiap lubang hidung terdapat organ olfaktori. Pada mata terdapat kelenjar lachrymal yang menjaga kornea atau permukaan bola mata tetap lembab, ketika hewan berada dipermukaan air. Telinga buaya memiliki tipe telinga vertebrata darat. Setiap telinga memiliki saluran auditori eksternal yang pendek, yang terdapat dibawah daun telinga. Saluran telinga berlanjut ke membrane timpani, didalam rongga timpani atau telinga tengah terdapat tiga saluran semisirkuler dan organ pendengar. Dari setiap rongga timpani, terdapat tabung eustachian di bagian tengah yang terhubung ke rongga bagian atas faring di belakang rongga hidung.
Sistem Reproduksi
Pada hewan ini proses fertilisasi berlangsung secara internal. Organ reproduksi hewan betina berupa sepasang ovarium, oviduk yang berdinding tipis dimana oviduk ini memiliki kelenjar yang member kulit keras pada ovum yang telah dibuahi. Oviduk ini bermuara di kloaka.
Organ reproduksi pada hewan jantan yaitu  alat kelamin kusus yang disebut hemipenis,sepasang testis, didekatnya terdapat saluran epididimis kemudian dilanjutkan oleh saluran vas deferens yang pada bagian caudalnya bersatu dengan ureter dan bermuara di kloaka.
Pada buaya yang masih muda, gonad jantan dan betina tampak serupa. Pada jantan dewasa, dua testis berbentuk bulat terdapat sebuah vasdeferens menuju kloaka, yaitu disebelah anterior dan ureter, yang berlanjut ke penis tunggal yang terdapat pada bagia yang sama, yang melekat dekat ventral kloaka. Pada betina dewasa terdapat dua ovarium yang sama melekat dekat dengan ginjal. Disebelah anterior dari setiap ginjal terdapat saluran oviduct, yang merupakan tempat terjadinya fertilisasi. Selanjutnya telur yang sudah di fertilisasi akan di selaputi albumin, membrane dan cangkang, kemudian dikeluarkan dari tubuh betina untuk ditetaskan.
Habitat dan persebaran
Kebanyakan kadal tinggal di atas tanah (terrestrial), sementara sebagiannya hidup menyusup di dalam tanah gembur atau pasir (fossorial). Sebagian lagi berkeliaran di atas atau di batang pohon. Untuk komodo sangatlah endemik yaitu terbatas persebarannya di beberapa pulau kecil di Nusa Tenggara, seperti pulau Komodo, Padar, Rinca dan di ujung barat pulau Flores.
Biawak umumnya menghuni tepi-tepi sungai atau saluran air, tepi danau, pantai, dan rawa-rawa. Di perkotaan, biawak sering temukan hidup di gorong-gorong saluran air yang bermuara ke sungai. Sedangkan cecak hidup di dinding dan atap rumah. Di alam cecak biasanya hidup pada tempat teduh. Persebaran lacertilia sangat hampir setiap tempat dapat ditemukan kecuali di daerah Arktik, Antartika dan Greenland.
Peranan ReptiliaTerhadap Manusia
Banyak jenis kadal dan ular yang menguntungkan manusia karena memakan serangga dan rodentia. Kulit buaya, ular, dan biawak serta penyu yang diperdagangkan sebagai bahan baku pembuatan tas, sepatu dll. Bagi sebgian orang daging ular di jadikan makanan karena dipercaya memiliki khasiat sebagai obat. Bisa ular juga sebagai penawar gigitan ular.


Kunci Pengenalan Spesies
Kelas Reptilia dibagai menjadi 4 ordo, yaitu Rhyncocephalia (contohnya: Tuatara), Chelonia (contohnya: Penyu, Kura-kura, dan Bulus), Squamata (Contohnya: Serpentes, Lacertilia, dan Amphisbaena) dan Crocodilia (contohnya: Buaya, Aligator, Senyulong, dan Caiman) dll.
Subordo Amphisbaenia
Subordo Amphisbaenia merupakan bagian dari Ordo Squamata yang tidak berkaki namum memiliki kenampakan seperti cacing karena warnanya yang semu merah muda dan sisiknya yang tersusun seperti cincin. Kelangkaannya dan kehidupannya yang malang menjadikan sedikit keterangan yang bisa diketahui dari subordo ini. Kepalanya tidak memisah dari lehernya, tengkorak terbuat dari tulang keras, memiliki gigi median di bagian rahang atasnya tidak memiliki telinga luar dan matanya tersembunyi oleh sisik dan kulit. Tubuhnya memanjang dan bagian ekornya hampir menyerupai kepalanya.
Ordo Rhynchocephalia
Ordo ini diketahui berdasarkan catatan fosil pada Era Triasik Akhir yaitu antara 210-220 juta tahun yang lalu. Ordo Rhynchocephalia memiliki tipe tengkorak diapsid. Morfologinya mirip dengan anggota lacertilia dan panjang dewasanya mencapai 30 cm. Anggota ordo ini semuanya karnivora dan mencari makan di malam hari. Habitat hidupnya di air atau di daratan. Ordo Rhynchocephalia bereproduksi secara ovipar dengan fertilisasi internal. Telurnya ditempatkan dalam suatu lubang seperti kebanyakan anggota Kelas Reptilia lainnya dan menetas dalam waktu 1 tahun.
Anggota Ordo Rhynchocephalia mempunyai satu familia yaitu Sphenodontidae dan hanya satu genus Sphenodon. Genus ini terdiri dari dua spesies yaitu Sphenodon punctatus dan Sphenodon guntheri (Tuatara). Keduanya merupakan hewan endemik Selandia Baru.
Ordo Crocodyllia
Ordo crocodylia mencakup hewan reptil yang berukuran paling besar di antara reptil lain. Kulit mengandung sisik dari bahan tanduk. Di daerah punggung sisik-sisik itu tersusun teratur berderat ke arah ternversal dan mengalami penulangan membentuk perisai dermal. Sisik pada bagian dorsal berlunas, pada bagian lateral bulat dan pada bagian ventral berbentuk segi empat. Kepala berbentuk piramida, keras dan kuat, dilengkapi dengan gigi-gigi runcing bertipe gigi tecodont. Mata kecil terletak di bagian kepala yang menonjol ke dorso-lateral. Pupil vertikal dilengkapi selaput mata, tertutup oleh lipatan kulit yang membungkus tulang sehingga lubang tersebut hanya nampak seperti celah. Lubang hidung terletak pada sisi dorsal ujung moncong dan dilengkapi dengan suatu penutup dari otot yang dapat berkontraksi secara otomatis pada saat buaya menyelam. Ekor panjang dan kuat. Tungkai relatif pendek tetapi cukup kuat. Tungkai belakang lebih panjang, berjari 4 dan berselaput. Tungkai depan berjari 5 tanpa selaput
Crocodilia memiliki sisik tebal dari keratin dan diperkuat dengan lempengan tulang yang disebut skuta sebagai pelindung, sisik rontok satu persatu tidak seperti ular. Contoh spesies dari ordo ini adalah buaya. Buaya memiliki ekor tebal berotot, kaki depannya berjari lima, sedangkan kaki belakang berjari emapat sebagian berselaput untuk berenang. Lubang hidung terletak di ujung moncongnya yang memungkinkan untuk bernapas saat di dalam air, jantungnya beruang empat namun memiliki pori di antara bilik kiri dan kanan. Contoh spesies buaya adalah buaya muara (Crocodylus porosus).
Jantung buaya memiliki 4 ruang namun sekat antar ventrikel kanan dan kiri tidak sempurna yang menyebabkan terjadinya percampuran darah. Pada jantungnya memiliki foramen panizza. Crocodilia merupakan hewan poikilotermik sehingga kebanyakan akan berjemur di siang hari unutk menjaga suhu tubuhnya. Mereka berburu di malam hari, Crocodilia dewasa terutama yang dominan memiliki teritori tersendiri, namun pada musim kering teritori tersebut dilupakan karena daerah mereka menyempit akibat kekeringan.
Adapun klasifikasi Ordo Crocodylia adalah sebagai berikut:
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Superkelas : Tetrapoda
Kelas : Reptilia
Subkelas : Diapsida
Ordo : Crocodylia
Familia : Alligatoridae
Familia : Crocodylidae
Familia : Gavialidae
Famili Alligatoridae
Famili Alligatoridae memiliki ciri-ciri bentuk moncongnya yang tumpul dengan deretan gigi pada rahang bawah tepat menancap pada gigi yang terdapat pada rongga pada deretan rahang atas sehingga pada saat moncongnya mengatup hanya deretan gigi pada rahang atasnya saja yang terlihat. Dapat mencapai umur maksimal hingga 75 tahun. Tahan terhadap suhu rendah.memiliki lempeng tulang pada punggung dan bagian perut bawah memiliki sisik dari bahan tanduk yang lebar.yang berjumlah lebih dari 6 sisik. Beberapa spesies yang termasuk famili ini adalah :
Genus Alligator
- Alligator mississippiensis
- Alligator sinensis
Genus Caiman
- Caiman crocodiles
- Caiman latirostris
- Caiman yacare
Genus Melanosuchus
- Melanosuchus niger
 Genus Paleosuchus
- Paleosuchus palpebrosus
- Paleosuchus trigonatus

Famili Crocodylidae
Ciri-ciri Famili Crocodilidae adalah moncongnya meruncing dengan bentuk yang hampir segitiga dan pada saat mengatup, kedua deret giginya terlihat dengan jelas. Kedua tulang rusuk pada ruas tulang belakang pertama bagian leher terbuka lebar. Terdapat pula baris tunggal sisik balakang kepala yang melintang yang tidak lebih dari 6 buah di bagian tengkuk.
Famili Crocodilidae dibagi menjadi:
Subfamily Crocodylinae
Genus Crocodylus
- Crocodylus acutus
- Crocodylus cataphractus
- Crocodylus intermedius
- Crocodylus johnstoni
- Crocodylus mindorensis
- Crocodylus moreletii
- Crocodylus niloticus
- Crocodylus novaeguineae
- Crocodylus palustris
- Crocodylus porosus
- Crocodylus rhombifer
- Crocodylus siamensis
- Osteolaemus tetraspis
Subfamily Tomistominae
Genus Tomistoma
Famili Gavialidae
Famili Gavialidae memiliki bentuk moncong yang memanjang dan pada saat moncong tersebut menangkup, kedua deret gigi yaitu yang berada di rahang atas dan rahang bawah terlihat berseling. Ujung moncongnya melebar dan bersegi 8, sekilas bentuknya mirip dengan Tomistoma schlegelii.
Spesies anggota Famili Crocodilidae yang ada di Indonesia adalah :
1. Crocodylus novaguineae (Buaya Irian)
Spesies yang sering disebut sebagai Buaya Irian ini dibedakan dengan buaya yang lain berdasarkan ukuran sisiknya yang lebih besar, terutama sisik ventralnya. Sisik belakang kepalanya berjumlah 4-7 buah. Sisik D.C.W (Double Crest Whorl) sejumlah 17-20 pasang, sedangkan Sisik S.C.W (Single Crest Whorl) berjumlah 18-21 buah. Jumlah sisik ventral terdiri atas 23-28 baris dari depan ke belakang. Ukuran maksimum dapat mencapai 3350 mm untuk jantan dan 2650 mm untuk betina.
Pada waktu akan bertelur, betina akan membuat sarang dan bertelur pada awal musim kemarau, hal ini berlawanan dengan Crocodylus porosus. Telur-telur ini dijaga oleh induk sampai mereka dapat mencari makanan sendiri. Buaya-buaya ini menempati habitat yang sama dengan buaya air tawar di Indonesia Barat dan dijumpai sampai ke pedalaman dengan persebaran meliputi Irian sebelah utara, mulai dari daerah DAS Memberamo, sampai semenanjung selatan Papua Nugini.
2. Crocodylus porosus (Buaya Muara)
Buaya muara dikenal sebagai buaya terbesar di dunia dan dapat mencapai panjang tujuh meter. Buaya ini dibedakan dengan buaya yang lain berdasarkan sisik belakang kepalanya yang kecil ataupun tidak ada, sisik dorsalnya berlunas pendek berjumlah 16-17 baris dari depan ke belakang biasanya 6-8 baris. Tubuhnya berwarna abu-abu atau hijau tua terutama pada yang dewasa sedangkan yang muda berwarna lebih kehijauan dengan bercak hitam, dan pada ekornya terdapat belang hitam dari bercak- bercak berwarna hitam.
Saat bertelur, betina akan membuat sarang dari sampah tumbuhan, dan dedaunan. Buaya ini bertelur pada awal musim penghujan. Telur-telur ini akan terus dijaga oleh induk sampai menetas dan mereka dapat mencari makanan sendiri. Buaya jenis ini menempati habitat muara sungai. Kadang dijumpai di laut lepas. Makanan utamanya adalah ikan walaupun sering menyerang manusia dan babi hutan yang mendekati sungai untuk minum. Persebaran buaya ini hampir di seluruh perairan Indonesa.
3. Crocodylus siamensis (Buaya Air Tawar)
Dibedakan dengan buaya yang lain berdasarkan sisik post occipital-nya yang berjumlah 2-4 buah. Moncongnya tidak berlunas tetapi terdapat lunas yang jelas di antara kedua matanya.. Panjang moncongnya satu setengah sampai satu tiga perempat kali lebarnya. Umumnya memiliki 3-4 buah sisik belakang kepala. Tubuhnya kecil dan hanya dapat mencapai panjang sekitar satu meter, berwarna hijau tua kecoklatan dan anakan berwarna lebih muda dengan bercak-bercak pada punggung dan ekor. Belang hitam pada ekor umumnya tidak utuh. Buaya air tawar betina bertelur pada awal musim penghujan. Buaya ini hidup pada pedalaman dengan air yang tawar, sungai atau rawa-rawa. Makanan utamanya adalah ikan. Jenis ini juga dikenal sebagai buaya siam. Persebarannya meliputi Kalimantan Timur,dan Jawa.
4. Tomistoma Schlegelii ( Buaya Senyulong)
Buaya ini dapat dibedakan dengan buaya yang lain berdasarkan moncongnya yang sangat sempit dengan ukuran tubuh yang mencapai 5,6m. Jari kakinya memiliki selaput, dan sisi kakinya berlunas. Matanya memiliki iris yang tegak. Betinanya bertelur pada awal musim penghujan. Telurnya diletakkan dalam tanah dan ditimbun dengan sampah tetumbuhan.
Habitat yang menjadi favorit buaya ini adalah lubuk-lubuk yang relatif dalam, rawa-rawa, hingga ke pedalaman. Makanan utama adalah ikan, udang dan juga monyet. Persebaran buaya ini meliputi Sumatera, Kalimantan dan Jawa.

 

leave me alone please don't cry Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea